Tuesday, November 12, 2013

UPSIDE DOWN



UPSIDE DOWN.

Film romantis yang sangat unik. Jadi di film ini, ada dua dunia, atas dan bawah. Inti ceritanya adalah cowok dari dunia bawah jatuh cinta dengan cewek dari dunia atas. Permasalahan berlanjut ketika si cowok tidak pantang menyerah untuk mendapatkan cinta sang cewek. Karena seseorang dari dunia bawah tidak boleh ke atas dan begitu sebaliknya.

TURBO



TURBO. A recommended movie to watch. Really funny!

Thursday, October 17, 2013

Kantor Idaman

Setelah beberapa kali pindah kerja dan interview sana-sini (cieeeeelah. Berasa banyak pengalaman).

Hehehe. Enggak sih lebih banyak tanya sana sini juga, gue menyimpulkan untuk saat ini kalau kantor idaman adalah sebagai berikut:


1.   Gaji disesuaikan dengan pengalaman kerja dan deskripsi kerja
2.   5 (lima) hari kerja dalam seminggu
3.   7 atau 8 jam kerja dalam sehari
4.   Terdapat uang lembur
5.   Terdapat asuransi kesehatan
6.   Diperbolehkan izin sakit
7.   Terdapat cuti haid dan cuti-cuti lainnya
8.   Tidak ada penalti
9.   Satu tahun pengangkatan karyawan
10. Mendapatkan makan siang secara prasmanan di pantry
11. Terdapat rekreasi karyawan atau outing bersama
12. Terdapat gaji ke-13 atau bonus lainnya
13. Diberikan pelatihan


So far, kantor idaman gue seperti itu. Kalau semua itu sudah gue dapatkan, pasti gue akan rela mengabdi sampai tua nanti. Hehehe

Wednesday, October 16, 2013

HUTANG

Ngomongin hutang..

Agak berat ya kalo ngomongin hutang. Tapi, akhir-akhir ini "hutang" itu lagi happening di hidup gue. Lagi mundar-mandir di pikiran gue. Ada sahabat gue, bernama Asih, yang sangat mementingkan hutang. Dia selalu berkata "Aku punya hutang enggak ke kamu? Tolong diingetin ya kalau ada". Dia concern banget masalah hutang. Gue mengerti mengapa dia begitu concern akan hal tersebut.

Gue sering melihat di televisi atau lini masa di twitter yang bilang kalau hutang itu akan ditanyakan di akhirat nanti. Agak ngeri ya. Ngeri banget lebih pastinya. Pahala enggak seberapa, dikurangin lagi sama hutang di dunia. Sebisa mungkin gue menghindari hutang. Ya. Sebisa mungkin.

Selama gue hidup, gue punya hutang yang masih gue ingat sampe sekarang. Hutang ke Mama dan ke Aa Deri. Hutang ke Mama waktu itu buat nambahin biaya kuliah, gue bilang "Nanti Ade ganti, Mah". Nominalnya Rp 150.000,- dan saat uang Rp 150.000,- nya sudah ada, uangnya malah gue beliin Magic Com buat di kosan. Kalau ke Aa Deri, waktu Aa Deri ngasih total modal Rp 800.000,- buat jualan pulsa dan uang+untungnya sudah habis buat jajan kuliah. Hehehe

Hutang-hutang lainnya, yang sering ya beli pulsa ke tetangga, bayarnya seketemunya atau sekalian banyak. Jadi kalau beli pulsa lima ribu terus bayar, terus besoknya beli lagi kan beberapa kali balik tuh. Jadi kalo totalnya sudah tiga puluh ribuan baru bayar. Enggak bagus juga ya sebenarnya. Kasian yang jual pulsa. Sebagai mantan penjual pulsa, gue taulah rasanya dihutangin. Hehehe

Belakangan, gue punya temen yang dua kali minjem, eh ini minjem bukan ya namanya kalau "pake uang lo dulu ya" saat bareng beli apaaaaa gitu. Tapi dia lupa bayar. Iya. Lupa. Dan gue enggak enak menagihnya. Nominalnya sih enggak seberapa. Karena itu sih. Makanya, gue mengikhlaskannya. Terus kalau ikhlas kenapa diomongin? Bukan itu. That's not the point. Gue ingin me-share aja.

Kenapa tidak gue katakan atau menagihnya langsung? Sepengetahuan gue, ini orang sensitive. Mending gue mundur dan "CUKUP TAHU" tidak perlu tempe. Kenapa ya bisa lupa kalau pernah minjem duit orang? Kalau gue selalu terbayang-bayang kalau abis minjem duit orang. "Gue punya utang. utang. utang. utang." Setiap orang berbeda. Mungkin dia belum tahu kalau di Islam, hutang itu akan dipertanyakan di akhirat.

Ada kisah lucu tentang hutang. Bulan lalu, ada tetangga yang pinjam uang ke gue. Kebetulan gue ada uang tabungan yang sesuai dengan nominal yang dia butuhkan. Gue hanya berniat membantu karena gue sudah menganggap tetangga ini sebagai saudara. Untuk merayu gue, dia mengatakan "Nanti pas balikin, aku kasih tambahan deh buat Lia beli baju". Gue tidak menanggapinya, tapi dalam hati gue berkata "Beli baju? Ya lumayan dong 100rb atau 200rb" tapi gue kemudian menghilangkan lamunan itu karena takut ngarep. Alhamdulillahnya, dia mengembalikan tetap waktu, malah lebih awal dari yang dijanjikan. Tapi agak manyun saat uang tambahannya hanya 50rb, katanya, "uang 50rb-nya buat beli bakso". Hehehe tuh kan. Ya pokoknya tuh kan aja deh.

Iya. Saat butuh. Memang janji-janji indah terucap begitu saja. Gue maklum akan hal itu. Sama halnya dengan kejadian awal bulan ini. Ada seseorang, yang meminjam uang sekian dan akan dibayar satu minggu kemudian. Indah kan janjinya? "Iya, cuma seminggu ini minjemnya. Gapapalah. Kasian kayaknya butuh banget" Gue terus meyakinkan diri gue. Dan satu minggu kemudian gue tagih, malah diundur satu bulan peminjamannya. Alasannya "Uangnya kepake bayar mobil. Pas gajian aja ya bayarnya". Gampang banget ya bilang begitu. Dia gak mikir, gue perlu uang itu atau enggak, karena kan gue memberi pinjaman karena janjinya cuma satu minggu. Dengan kalem gue menjawab "Yaudah, gapapa tapi nanti kalau ada perlu, enggak bakal gue percaya lagi".

Tadinya gue mau beli tab pake uang itu. Yaudah deh, mungkin belum saatnya gue beli tab. Sabar aja.

THE POINT IS ngutang boleh. Boleh banget. Tapi harus bayar.



Note: Kalau gue punya hutang dan belum bayar, tolong tagih ya :))

Monday, September 23, 2013

Makan Bareng a la Sunda



Saat libur lebaran kemarin, pertengahan bulan Agustus 2013, gue sekeluarga pulang kampung ke Palabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan di sana, makan-main-makan-main-tidur-makan-main-tidur dan seterusnya. Bener-bener liburan, melupakan pekerjaan. Empat hari di sana lumayan me-refresh otak.

Nah, ini nih salah satu kegiatan yang sering dilakukan kalau di sana, MAKAN BARENG. Makan bareng atau botram atau . Kalau di Jakarta, mungkin makan bareng hanya sekedar makan bareng, berbeda piring, kalau di sana, makan bareng ya benar-benar makan bareng. Satu piring a.k.a satu alas yaitu, beralaskan daun pisang. Lauknya ikan bakar, sayurnya sayur kangkung, nasinya nasi liwet, dan sambalnya sambal apa ya gue gak tau namanya, dan sambal kecap.

Nikmatnyaaaaaaa melebihi makan di restoran pasta atau lainnya, menurut gue. Here we are the pictures,



Makan bersama dimulai



Sambalnya nih




Chief Kitchen-nya lagi SMS-an dulu nih



Menunggu ikan dibakar



Ikan sedang dibakar



















Menunggu ikan dibakar, main games dulu


























Selesai makan, foto-foto



Giliran gue main game ONET :P

Litroom: Audio Visual Art

Proudly present ...




Litroom: Audio Visual Art merupakan sebuah rumah produksi audio visual. Bagi anda yang membutuhkan dokumentasi berbagai acara, kegiatan, pembuatan video clip, company profile dan sebagainya dengan harga negotiable, dapat menghubungi kami di:


Lydia Fahmawati:

085694420520
lydia.fahmawati@gmail.com

Tuesday, September 17, 2013

Puncak, Cipanas, Jawa Barat

Early morning ...






 



Papa's Marriage


Monday, August 12th 2013



After one year five months Mama left us, finally Papa (53 years old) decided to getting married again. With woman 39 years old that lived in Pelabuhan Ratu, Papa's hometown. If you ask me "what's your opinion?", I will answer "I really agree". Awalnya sih, sama sekali enggak setuju "Ngapain sih udah tua masih mau nikah aja" atau "anak-anaknya aja masih banyak yang belum nikah, ini lagi Papa mau melangkahi".

Namun, setelah lihat Papa yang agak "goyang" tanpa pendamping, gue langsung "It's better than he lives alone". Sebenernya sih enggak sendiri-sendiri amat ya. Papa tinggal bareng gue, Kiki dan Aa Deri kadang pulang di weekend. Ya tapi gitu deh, gue dan Kiki kerja, sampai rumah jam 7-an malam.  Karena lelah kerja, jadinya di rumah hanya makan dan tidur.  Jarang tuh ngobrol sama Papa.  Padahal kan Papa pasti kesepian. Akhirnya berujung Papa main sama temen-temennya. And the impact was negative.  I can't explain, how negative is it.

Papa dijodohkan oleh adiknya di Pelabuhan Ratu, with a woman (widow with one daughter (married)). I called her "Ibu", Ibu Naryati. She's nice, tender, dilligent. She always serving Papa patiently, making Papa a cup of coffee, like Mama do. But, Mama is more beautiful than her. Mama is better in all sides than her. Mama is the best mother I ever had, the best wife of Papa had, the best parent in my life.

How ever, I really thanks to Ibu Naryati for her love to taking care Papa. Thanks to her goodness to us.

Wednesday, September 11, 2013

Batik Papua

Really thanks to my brother, Deri Marret for the gift, Batik Dress and Bracelet from West Papua.











Friday, September 6, 2013

Hair Coloring

HAIR COLORING.

Masih suka sakit sih ya kalau terus menyebut kata tersebut. Sakit hati? Ya.. Agak menyesal mungkin tepatnya. Keputusan untuk "Oke, gue akan merubah warna rambut gue" itu ternyata keputusan besar yang lumayan berpengaruh bagi fisik dan mental seseorang. Hehehe.

Mengapa fisik?
Ya karena jika rambut berubah warna, maka penampilan secara fisik akan berubah. Aura seseorang akan berubah. Jika hasilnya bagus, fisik jadi bagus pula, begitu sebaliknya. DAN bagi gue, fisik berpengaruh ke mental. SANGAT BERPENGARUH.

Mengapa Mental?
Ya itu tadi, karena fisik berubah, mental pun akan berubah. Mental up, jika perubahan warna rambut membuat fisik jadi bagus, dan begitu pun sebaliknya, mental down, jika perubahan warna rambut membuat fisik jadi minus.

Pengalaman gue dalam hair coloring sebetulnya tidak separah "membuat fisik jadi minus" itu tadi. Enggak segitunya sih. Hanya "tidak sesuai harapan". HANYA? Ya enggak hanya sih tapi "ENGGAK SESUAI HARAPAN BINGIT"

Dari zaman gue SMP, gue sih sudah lihat ya ada temen-temen yang rambutnya "agak beda". Kok pas upacara rambutnya jadi keunguan begitu atau rambutnya cokelat bukan hitam. Tapi baru sekarang gue merasa tergelitik (GILE BAHASA LO) untuk mencoba mewarnai rambut.

Alasan pertama, gue sudah merasa dewasa untuk merubah penampilan. Alasan kedua, sudah punya uang sendiri buat ke salon. Alasan ketiga, laper mata liat model-model dan cewek-cewek lainnya punya warna rambut yang lucu.

Pertama kali mewarnai rambut itu,  bulan Februari 2013. Tapi itu diwarnain sama Dini, beli cat rambutnya di supermarket. Merk cat rambutnya L'oreal, harganya Rp 88.000,- something. Waktu itu, merasa butuh untuk dicat karena rambut gue kelihatan kusam pasca di-smoothing. Dini bilang, enam bulan lagi nanti ngecat rambut lagi karena pasti warnanya sudah pudar.

Padahal habis dicat pun, gue enggak melihat perbedaan sebelum dan sesudah dicat. Mungkin karena gue terlalu memilih warna rambut yang gelap ya jadi enggak keliatan. Kemudian karena merasa ngecat rambut sendiri tidak maksimal, beberapa hari lalu, gue memutuskan untuk pergi ke salon.

Pergi ke sebuah mall deket rumah. Memilih salon yang lumayan cukup terkenal. Duh, sebut namanya enggak yah. Nama salonnya terdiri dari dua suku kata. Depannya J. YOU KNOW KAAAAAN? Ya itulah.
Datang ke sana, dengan harapan keluar dari salon itu dengan memiliki warna rambut seperti ini:




Salah satu dari itu deh pokoknya. Stylist-nya bilang, enggak bisa semirip itu. KARENA butuh beberapa kali pewarnaan. DAN setelah menghabis dua setengah botol cat rambut, hasilnya tidak memuaskan. Ya mungkin balik lagi, memang enggak bisa satu kali pewarnaan. Harus berkali-kali. Next time, beli cat rambut sendiri aja deh. Karena jika dibandingkan dengan pengeluaran yang lumayan besar, hasil jauh banget.

Mendingan cat rambut sendiri atau ke salon kampung aja. That's a good idea!